Minggu, 31 Juli 2011

Cerpen INSAN Vol. 01 2010/2011

SEBUAH TANTANGAN YANG BARU DALAM HIDUPKU
         Aku adalah seorang gadis remaja yang menginjak usia 17 tahun. Aku ini seorang muallaf, aku baru-baru saja menjadi seorang muslimah. Dulu aku seorang kristiani, ayahku seorang pendeta, sejak kecil ayah dan ibuku sangat mendidik aku dalam agama tersebut. Hingga aku dimasukkan ke sekolah biarawati. Pernah suatu saat ketika aku berjalan menuju kerumah aku melewati sebuah mesjid. Pada saat aku lewat aku mendengarkan sebuah cerama, ada sepenggal kalimat dari ceramah itu yang sangat membuat hatiku bergetar, yaitu”Agama yang paling mulia disisi Allah SWT adalah agama islam, dan agama yang selamat juga agama Islam”.Entah mengapa kalimat itu selalu terngiang di telingaku. Pad saat itu aku masih memeluk agama kristen. Aku sudah tidak betah sekolah di sekolah biarawati tersebut, hingga aku dipindahkan oleh orangtuaku ke sekolah umum .
       Setelah aku menginjakan kakiku di sekolah baruku, aku ditempatkan di kelas XI IPA, aku merasa bangga berada di kelas itu, karena didalamnya penuh dengan persaingan. Di dalam kelasku dari sekian banyaknya wanita hanya ada satu orang yang mengenakan jilbab. Entah mengapa aku sangat terkagum melihat temanku itu, karena dia terlihat begitu anggun dan sopan dengan mengenakan jilbab”Nama Miftahul Jannah” katanya kepadaku dengan mengulurkan tangannya untuk bersalaman sebagai tanda perkenalan. Akupun menjabat tangannya, dan berkata”Namaku Yulia” .salam kenal.! Aku merasa senang karena ia orangnya ramah, waktu istirahat, tak lama aku berbincang-bincang dengannya,  hingga bel tanda pelajaran masuk berbunyi. Ter nyata Miftah seorang  anak ustadz, dan dia ternyata adalah tetangga samping rumahku. Jadi sewaktu pulang sekolah aku berjalan bersama dengannya. Bahkan dia memintaiku untuk mampir ke rumahnya dulu srtiap pulang sekolah.
       Hubungan pertemananku dengan Miftah sangat dekat, hingga akhirnya aku menganggapnya sebagai sahabat. Pada saat hari minggu pulang dari gereja , aku mampir di rumah Miftah untuk mengerjakan tugas kelompok. Di tengah keseriusan kami belajar bersama, aku mendengar suara ayah Miftah, suara itu mirip dengan suara pencerama yang pernah aku dengar ketika aku melewati sebuah mesjid. Ternyata dugaanku benar, ayah miftah adalah orang yang pernah aku dengar ceramah, dan ceramahnya itulah yang selalu terniang di telingaku.
       Ketika di kelas, aku menanyakan Miftah mengenai hal yang aku alami saat ini. Miftah hanya terdiam, dari wajahnya sebenarnya ia mempunyai jawaban untukku, tetapi ia takut untuk mengeluarkan kata-katanya. “Islam itu adalah Agama yang selamat, Agama yang paling mulia itu adalah Agama Islam, Islam juga sangat menjaga yang namanya kaum wanita, aku mengenakan jilbab karna ajaran agamaku menganjurkan untuk menutupi auratnya dengan pakaian muslimah” ucap Miftah kepadaku. Disaat itulah aku mulai tertarik dengan islam. “Miftah, aku ingin pindah ke agamamu, aku ingin pindah ke Agama Islam, bagaiman caranya ?”tanyaku kepadsa Miftah yang membuatnya kaget,”benar kamu ingin masuk ke Agama islam?”tanyanya kembali. “ia, aku serius!”.Miftah menyuruhku datang ke rumahnya, katanya ayahnya yang akan membantuku untuk memeluk Agama Islam. Aku tidak memberitahukan hal ini kepada orangtuaku, sebab aku yakin bahwa mereka pasti tidak menyetujui kalakuanku ini.
          Sore harinya aku pergi ke rumah Miftah. Sesuai dengan yang dikatalkan Miftah kepadaku, bahwa aku harus datang sore hari. Aku terpaksa berbohong kepada orangtuaku bahwa aku ke rumah Miftah untuk kerja tugas. Sesampai di rumah Miftah aku langsung berhadapan dengan ayah Miftah. Pertama aku dituntun olehnya untuk mengucapkan syahadat, lalu ayah Miftah menyuruh Miftah untuk mengajariku mandi taubat. Usai mandi aku diajarkan oleh Miftah tatacara berudhu dan sholat, kemudian ayah Miftah menyarankan kepadaku bahwa sebaiknya aku harus mengenakan jilbab. Miftah pun meminjamkan satu pasng pakaiannya kepadaku, aku menatap diriku di cermin, aku tak kuasa menahan air mataku menetes membasahi pipiku, diriku seperti manusia yang baru lahir di dunia,aku sangat merasakan kedamaian dalam hatiku.Tetapi aku teringat lagi dengan orangtuaku, aku masih berada diambang kebimbangan. Akupun menceritakan kebimbanganku ini kepada pak ustadz, ia memberiku solusu yaitu, aku harus menemui orangtuaku, aku harus menceritakan semua yang telah aku lakukan.

      Akupun pulang ke rumah dengan rasa deg-degan, aku mulai melangkahkan kakiku menuju ruang tengah, kebetulan ayah dan ibuku sedang duduk di ruangan itu. Ayah melihatku mengenakan jilbab, ia sangat marah kepadaku, karna aku pindah Agama lain secara diam-diam, tanpa minta izin kepada mereka. Mereka berdua mengucilkanku di rumah, bahkan mereka tega mengusir aku dari rumah, mereka tidak menganggapku lagi sebagai anaknya.
     Aku segera membereskan pakaian-pakaianku dan meninggalkan rumah dengan tangis yang membasahi pipiku.Miftah datang menghampiriku, ia menawarkan aku untuk tinggal di rumahnya sementara waktu.Aku mengikuti saran Miftah tetapi aku hanya tinggal di rimahnya satu hari, aku tidak ingin merepotkan keluarganya. Pagp-pagi buta aku meninggalkan rumah Miftah, tampa ada seoarang pun yang mengetahui bahwa aku keluar dari rumah itu. Sebenarnya aku bingun akan kemana tujuanku, tetapi aku teringat bahwa di dekat mesjid ada panti asuhan jadi aku mendaftarkan diriku di panti asuhan tersebut. Walaupun berat rasanya tapi hanya itulah yang aku dapatkan tempat tinggal. Aku merasa bahwa ini sebuah tantangan pertamaku dalam islam. Tetapi aku bersyukur karna aku diberi hidayah oleh Allah SWT .
(Syahriani Syah, XI IPS)

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar