| K |
etahuilah wahai kaum muslimin semoga Allah menyadarkan diriku dan dirimu dari kelalaian, dan Dia memberi petunjuk kepadaku dan anda sekalian untuk siap sedia berpindah dari tempat tnggal yang fana ini ke tempat tinggal yang abadi bahwa perkara yang amat berbahaya bagi manusia adalah PANJANG HARAPAN . Makna panjang harapan adalah merasa diri akan hidup kekal di dunia, sehingga perasaan itu menguasai hati. Maka, ia giat bekerja menurut kahandaknya. Para salaf saleh rahmatu ‘I-Lahi’alaihim berkata,”Barang siapa panjang harapan, maka rusaklah amalannya
Sebab, panjang harapan akan menggiring pencitanya untuk senantiasa memperhatikan urusan dunia dan membenamkan diri dalam kesibukan membina istana impiannya, sehingga ia menghabiskan waktu siang dan malmnya untuk selalu memikirkan cara-cara mengatur kemajuannya. Terkadang, dengan berusaha di dalam hati, dan terkadang dengan bekerja untuk mencapai kenikmatan lahir ini. Ketika itu, seluruh hati dan anggotanya senantiasa sibuk dalam mununtut dunia. Segala amalan untuk akherat pun dilupakan dan tidak dikerjakan, karena tidak mempunyai waktu lagi untuk memperhatikannya. Jika perkara itu menyangkut urusan dunia, ia segera mengusahakan dan menyibukkan diri dalam upaya memperoleh kejayaan. Tetapi, jika perkara itu menyangkut urusan akherat, ia malas, enggan dan tidak punya waktu lagi. Mestinya, ia harus berbuat sebaliknya. Ia harus menyibukkan diri dengan urusan akherat yang akan menjamin baginya tempat tinggal yang abadi dan negeri tempat kembali yang bahagia.
Allah SWT. Dan Rasul-Nya SAW. Telah mengabarkan, bahwa tempat tinggal itu(surga) tidak akan di peroleh tanpa kerja dan usaha yang sungguh-sungguh dalam menuntutnya dan menyibukkan diri dalam tuntutannya itu.
Akan halnya dunia, ia adalah tempat tinggal sementara yang akan binasa. Dalam tempo tidak terlalu lama, anda akan berpindah tempat daripadanya menuju alam akherat. Segala harta benda yang anda kumpulkan akan di tinggalkan. Karena itu, anda tidak di tuntut untuk mencari dan memperhatikannya. Bahkan mengutamakan harta dunia dilarang oleh Allah SWT. Didalam kitabnya dan dalam ajaran rasulnya Saw.Reski yang telah ditetapkan Allah atasmu tidak akan lari, mesti anda tidak mencarinya.
Tetapi, bila harapan anda untuk tetap hidup abadi senantiasa tersimpan dalam sanubari. Maka mulailah anda bergiat dalam mengumpulkan harta dunia, sehingga anda lalai menyiapkan diri untuk hari akherat. Anda lupa, bahwa suatu hari kelak, anda akan mati juga. Jika terlintas dalam hati keinginan untuk mengerjakan amal saleh untuk akherat, anda justru menangguhkannya hingga ada waktu senggang sesudah melakukan pekerjaan dunia. Anda berbuat demikian, seakan ajal dan maut berada dalam genggaman tangan. Anda dapat menentukan mati, kapan saja anda suka. Semua itu adalah bahaya sifat panjang harapan.
Rasulullah SAW bersabda :
اِعْمَلْ لِدُ نْيَا كَ كَٲَ نَّكَ لَا تَمُوْ تُ ٲَ بَدًا وَا عْمَلْ لِا خِرَا تِكَ كَٲَ نَّكَ مَيّتُ غَدًا
Artinya :
“Bekerjalah untuk duniamu seakan kamu tidak akan mati selamanya, dan bekerjalah untuk akheratmu seakan maut menjemputmu esok”.
Hendaknya anda merasakan, bahwa maut senantiasa ada di sampingmu. Maksud hadist tersebut adalah,”Maut adalah perkara gaib yang dekat dan ditunggu-tunggu”.
Siapa yang tahu, bahwa sisa ajal hanya tinggal sedikit saja. Padahal, anda sedang sibuk dengan urusan dunia dan membelakangi urusan akherat. Jika maut datang menyambar anda, dan anda sedang dalam keadaan seperti itu, niscaya anda kembali kepada Tuhan dalam kondisi belum siap menemui-Nya. Jika mungkin, anda tentu akan memohon agar maut yang datang itu ditangguhkan hingga ke masa yang lain. Celakanya, yang demikian itu tidak mungkin terjadi dan tidak akan pernah dikabulkan.
Artinya :
“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata,’Ya Tuhanku, kembalikanlah aku(ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan”.(Al-Mu’minun,23:99-100)
Jika demikian kesudahan manusia, maka tak seorang pun melebihkan kecintaannya terhadap dunia dengan mengabaikan amalan-amalan untuk akherat. Dan tidak menyiapkan diri untuk menghadapi maut, melainkan seorang yang bodoh dan terpedaya.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
“orang yang pintar adalah orang yang mampu menguasai hawa nafsunya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Dan orang yang malas adalah orang yang menurutkan hawa nafsunya dan berangan-angan kosong terhadap Allah”.
Nyatalah, bahwa panjang harapan dalah perbuatan menurutkan hawa nafsu dan tertipu dengan cita-cita kosong.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar